Please upgrade your browser to make full use of twiends.   chrome   firefox   ie   safari  
Want your own social home page like this one? Click here.
 
Rona Pena™
317 followers
Sudah larut malam. Tak terasa waktu telah mengaduknya dengan perlahan. Aku ingin kamu menjadi tetes yang terakhir di cicip dan rasaku.
Pilihlah malammu sendiri dan jangan memintaku untuk menjadi sebatang lilin yang mampu menerangimu. Karena apabila... fb.me/2zFoGIROl
Today stats: One follower, No unfollowers via Unfollowers.com/?s=dt
Target jam 04.00 subuh nanti harus sudah selesai. Ada waktu sekitar 4 jam kedepan.
Today stats: One follower, No unfollowers via Unfollowers.com/?s=dt
ini hanya lelucon. ia ingin tersenyum bersama, rasanya. tapi kau tahu? ada yang datang, pecuri rupanya. ia mengendap. pelan
Retweeted by Rona Pena™
untukmu: bila kisah itu datang padamu, seperti sejatinya. jadilah pemenang. setidak-tidaknya mengalahkan sedihmu sendiri.
Retweeted by Rona Pena™
pada akhirnya kita akan mati bukan? kalah oleh usia waktu. tapi tidak, kita belum mengakuh kalah bukan?
Retweeted by Rona Pena™
usia; tak akan genap umtuk mengganjilkan sebab dalam dalam doamu. ia adalah lagu yang minta kau nyanyikan. cobalah.
Retweeted by Rona Pena™
sore dengan segala keresahannya. kita saling menikam. pisaumu karat, aku sekarat. bibirmu hening, kamu melarat.
Retweeted by Rona Pena™
rimbun pohon mengakar pada bibormu. guratanya seakan meminta temu. ada yang benar-benar jatuh. ia rindu tanah asalnya.
Retweeted by Rona Pena™
pilihlah malammu sendiri. dan jangan memintaku menjadi lilin sebab bila itu terjadi aku akan habis bersama malam.
Retweeted by Rona Pena™
pilih jalan hidupmu sendiri. geraklah. akan ada seseorang yang mencintai dan membencimu dengan alasan yang sama. hadapilah.
Retweeted by Rona Pena™
sudah larut malam. waktu mengaduknya, perlahan. sebentar. aku ingin kamu yang menjadi tetes terakhir di cicip dan rasaku.
Retweeted by Rona Pena™
aku tidak bisa merengkuh kesedihanmu. kau tahu? itu sangat menyedihkan. bahkan lebih dari itu, sepanjang hari aku gelisah.
Retweeted by Rona Pena™
tiap musim adalah hujan. ia jatuh pada tanah yang di cintainya. tapi tidak dengan pipimu yang basah oleh hujan kiriman.
Retweeted by Rona Pena™
Bila akhirnya kau akan bicara:Itu tak akan muda pikirku. Sebab kau selalu menyembuyikannya bukan. Anehnya kita bertemu pada suatu pagi.
Retweeted by Rona Pena™
Kita berziarah- rumah; payung terakhir yang menyelamatkan dari gigil musim. Pun kau sudah tahu bila itu mengalamat padamu. Berkunjunglah.
Retweeted by Rona Pena™
Ada Yang belajar. Diam-diam ia mengenakan kupingnya. Dirabanya kata yang bertebaran, lalu di rasa tidak cocok doamya selama ini.
Retweeted by Rona Pena™
Sesepi ini, masih saja kita saling menunggu. Selain itu. Saya tidak butuh apa-apa.
Retweeted by Rona Pena™
Jika kau tak mampu untuk memelukku, setidaknya janganlah menyakitiku.
Cinta- Bait terakhir dalam sajakku subuh ini. Tubuhku, keping yang mencoba utuh. Kau tahu? Seperti subuh rasanya-sepi.
Retweeted by Rona Pena™
Telah aku tamatkan membaca riwayat hujan. Benar katamu. Ia berhenti menjadi hutan setelah pecah akarnya. Di matamu ia utuh menjadi bencana
Retweeted by Rona Pena™
Wahai angin kerinduan, pergilah kepadanya, sampaikan bahwa kekosongan hati ini membuat hidupku diambang kesunyian. ~ @umisyaftarii
Retweeted by Rona Pena™
Setiap dari kita punya kesedihannya masing diri. Ada yang merawat kesedihannya dan ada pula yang tersenyum lalu larut dalam kesedihannya.